Minggu, 27 Juni 2010

Gagasan Pendidikan Islam dan Tantangannya Menurut Perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas
Abstrak
Syed Muhammad Naquib al-Attas diakui sebagai sarjana ulung dan pemikir Muslim yang telah memberikan sumbangan besar dalam pemikiran Islam kontemporer dan pendidikan Islam. Ide dan pandangan beliau sering menjadi rujukan, bukan saja oleh golongan mahasiswa tetapi juga oleh sebagian besar para pakar dan cendekiawan pada hari ini. Bahwa al-Attas menyumbangkan tiga di antara penemuan ilmiah terpenting di Dunia Islam yang sangat berpotensi mempengaruhi perjalanan kehidupan umat Islam secara mendalam dan menyeluruh. Sumbangan besar al-Attas ini ialah: Pertama, bahwa masalah terpenting yang dihadapi oleh umat Islam kini ialah masalah ilmu pengetahuan, kedua, ilmu pengetahuan modern tidak netral karena dipengaruhi oleh pandangan Barat (westernisasi) dan ketiga, Islamisasi Ilmu. Oleh karenanya, al-Attas menawarkan konsep ‘inculcation of adab’ atau at-Ta’dib, yaitu proses penanaman adab, yang menjadikan anak didik dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Kata kunci: Ilmu Pengetahuan, Westernisasi, Penanaman Adab


Pendahuluan
Pendidikan adalah aspek terpenting bagi kehidupan manusia. Dengan pendidikan manusia menjadi beradab, berlaku adil, bijak, dan menjunjung tinggi realitas kebenaran. Sebaliknya, tanpa pendidikan, ia menjadi zalim, arogan dan menentang kebenaran, atau dalam kata lain, tetap dalam ke-insanan-nya yang banyak salah dan lupa. Untuk itu, pendidikan secara betul dan tepat adalah kebutuhan primer manusia. Namun demikian, untuk memahami pendidikan secara betul dan tepat, kita harus mengkajinya sesempurna mungkin, agar mendapatkan hasil yang juga sempurna dan berimplikasi kepada pengaplikasian yang total pula. Adapun pengertian yang berkembang mengenai pendidikan saat ini didasari oleh suatu sikap yang berpendapat, bahwa pendidikan memainkan peranannya sebagai mobilitas sosial-ekonomi individu atau negara. Dominasi sikap seperti ini dalam dunia pendidikan telah melahirkan patologi psiko sosial, terutama di kalangan peserta didik dan orang tua, yang terkenal dengan sebutan “penyakit diploma” (diplomadisease), yaitu usaha dalam meraih suatu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan itu sendiri, melainkan karena nilai-nilai ekonomi sosial-ekonomi. Oleh karenanya, tidak mengherankan kalaulah ranah ini merupakan sasaran tepat yang selalu dijadikan kambing hitam oleh beberapa kalangan akademisi. Hal ini sejalan dengan kesatuan pendapat, bahwa pendidikan merupakan faktor yang urgen dalam menghasilkan warga negara yang baik dan pekerja yang baik. Artinya, pendidikan memainkan peranannya kepada aspek individu yang menginginkan peserta didiknya dapat mencapai cita-cita seperti pendahulunya. Dengan kata lain, pendidikan adalah jenjang mobilitas social-ekonomi masyarakat tertentu. Sebagaimana pendapat yang digulirkan oleh para teoritisi pendidikan, tujuan pendidikan mempunyai dua aliran. Aliran pertama, menitikberatkan kepada pendidikan yang berorentasikan kepada pandangan masyarakatnya, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik, baik untuk system pemerintahan demokratis, oligarkis, maupun monarkis. Dan aliran yang kedua menekankan kepada individu, yaitu pendidikan yang lebih memfokuskan diri kepada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar.
Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam memajukan pendidikan. Karena kemajuan pendidikan akan menjadi faktor utama penyebab kemajuan peradaban, namun pertanyaannya adalah, pendidikan yang bagaimana, guna memajukan peradaban?


Pendidikan menurut Islam
Dalam pandangan Islam, pendidikan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjadikan manusia yang tertanam dalam jiwanya nilai-nilai Islam, bukan hanya sebatas pengetahuan, dan pada akhirnya menjadikannya manusia yang sekuler. Dengan kata lain, Islam menginginkan bahwa pendidikan merupakan sebagai tujuan untuk menciptakan manusia yang baik. Mengutip pendapat dari Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya Islam and sucalarism, yang perlu ditentukan dalam pendidikan adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga dari kota yang terdapat dalam dirinya, sebagai warga negara dalam kerajaannya yang mikro, sebagai suatu yang bersifat spiritual, dan dengan demikian yang ditekankan itu bukanlah nilai manusia sebagai entitas fisik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya bagi Negara, masyarakat dan dunia. Artinya, pendidikan yang sempurna seharusnya merefleksikan sistem yang ada pada manusia. Karena menurut al-Attas, di dalam diri manusia ini ada sistem yang teratur dan rapi. Ia bagaikan miniatur alam semesta yang sudah tersistem. Kemudian Al-Attas mengambil bentuk universitas sebagai institusi tertinggi yang merefleksikan sistem manusia ini. Menurutnya pula, karena universitas itu universal yang membawahi fakultas-fakultas, maka ia harus menggambarkan manusia yang universal pula, tidak hanya diartikan dengan sebatas kemampuan fisiknya, dan pada akhirnya terbentuknya manusia-manusia yang bebas nilai.
Dalam hal ini al-Attas setuju dengan pendapat Al-Ghazali yang mengatakan bahwa secara spiritual, akal manusia bagaikan seorang menteri yang tulus dan bijaksana. Amarahnya bagaikan seorang polisi, sedangkan hawa nafsunya bagaikan pembantu jahat yang bisa membawa bekal kehidupan untuk seluruh kota. Jika seorang raja dapat memerintah dengan baik sehingga ketulusan dan kebijaksanaan sang menteri bisa dimanfaatkan untuk menjaga sang pembantu dan polisi supaya tetap berada pada tempat dan kerja mereka yang sepatutnya, masalah dan penghuni kota bisa dipenuhi dengan adil. Segala sesuatu akan menggambarkan adanya peraturan dan disiplin. Oleh karena itu manusia harus membuat inteleknya mendominasi elemen-elemen yang lain. Perkembangan kemampuan ini merupakan sebuah aspek penting dalam pendidikan sebagai proses penanaman adab. Inilah sebabnya, bahwa al-Attas mendiskripsikan manusia sebagai miniatur dari sebuah universitas, karena didalamnya terdapat simultan antara fakultas satu dengan lainnya.
Adapun manusia universal atau insan kami menurutnya, yaitu seseorang yang sanggup menampakkan sifat-sifat ketuhanan dalam perilakunya dan betul-betul menghayati kesatuan esensialnya dengan wujud ilahiah tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai seorang hamba dan makhlukNya. Golongan insan kamil ini dipimpin oleh Nabi Muhammad saw, diikuti semua nabi dan para hamba pilihanNya, yaitu para aulia dan ulama yang ilmu dan pemahaman spiritualnya sangat mendalam. Pendapat ini senada dengan Ghozali yang menyatakan, manusia diperintahkan Tuhan untuk meniru sifat-Nya (takhaluq bi akhlaq Allah). Keserupaan di sini yaitu, keserupaan antara Tuhan dan manusia terletak pada kesamaan sifat, seperti keadilan, kebaikan, dan juga kasih sayang. Seperti terdapat dalam firmanNya, ”Allah akan menjadikanmu khalifah di muka bumi” , karena keserupaan ini, Adam layak menjadi wakil Tuhan. Dalam hal keserupaan di sini, al-Ghozali menegaskan, bahwa keserupaan sifat manusia dengan Tuhan bukan berarti menunjukan kesamaan atau penyatuan diri manusia dengan Tuhan.
Menurut al-Attas nilai pada manusia itu, dipengaruhi oleh pandangan Islam bahwa manusia sejati digambarkan oleh sosok Nabi Muhammad SAW. Dan prinsip kesatuan manusia yang integral menurut Islam adalah jiwa yang telah mencapai pengetahuan yang benar mengenai masalah-masalah hakikat. Oleh karena itu, mekanisme kesatuan masyarakat universitas dan pengaturan ilmu pengetahuan sudah tentu tidak didasarkan pada sebuah mitos mengenai persamaan, tetapi didasarkan pada hierarki menurut tingkat pencapain spiritual dan moral serta kemampuan pendidikan. Dan menurut al-Attas juga, dalam universitas Islam elemen yang menyatukan seharusnya ilmu pengetahuan fardu ‘ain, dan metafisika sebagai bagian intinya. Artinya, bahwa ilmu atau pengetahuan (knowledge) tidak boleh terlepas dari kedudukannya, karena ilmu bersumberkan kepada yang haq (absolut) yaitu Allah swt.
Dalam karya selanjutnya, al-Attas menekankan bahwa penekanan terhadap individu bukan hanya sesuatu yang prinsipil, melainkan juga strategi yang jitu pada masa sekarang. Dan selanjutnya mengingatkan:
“Stressing the individual implies…knowledge about intelligence, virtue, and the spirit, and about ultimate destiny and purpose; for intelligence, virtue, and the spirit are elements inherent in the individual…but stressing of society and the state opens the door to secularism and secular ideology and secular, education”.
Arti bebasnya, penekanan terhadap Individu mengimplikasikan…pengetahuan mengenai akal, nilai, jiwa dan maksud yang sebenarnya (dari kehidupan ini) : sebab akal, nilai, dan jiwa adalah unsur-unsur inheren setiap individu..(sedangkan) penekanan terhadap masyarakat dan Negara…membuka pintu menuju sekulerisme, termasuk di dalamnya ideology dan pendidikan sekuler.
Dari pendapat di atas sejatinya dapat ditarik kesimpulan, bahwa untuk membentuk sesuatu yang bersifat makro tidak terlepas dari pengaruh komponen-komponen mikro yang membentuknya. Oleh sebab, itu manusia merupakan komponen yang menjadi syarat dalam pembentukan suatu makro. Dari persoalan yang semacam inilah, seringkali kita terbentur oleh sumber daya manusia yang menjadi kendala utama. Dengan demikian jelaslah, untuk membentuk manusia yang menjadi harapan umat dibutuhkan pendidikan. Sehingga pendidikan sering diposisikan sebagai penanggung jawab atas kompleksitas problem kehidupan, baik itu problem pribadi maupun problem sosial bahkan sampai kepada problem umat. Paradigma ini berangkat dari asumsi bahwa potret dan karekter masyarakat sangat bergantung atau dipengaruhi oleh pendidikan. Itulah sebabnya baik buruk individu dan masyarakat sering dipulangkan pada kualitas pendidikannya. Memang, pendidikan harus mempunyai peran sosial, akan tetapi bukan berarti problem sosial dapat selesai dengan pendidikan. Artinya, meletakkan problem sosial ke pundak pendidikan adalah sikap tidak adil terhadap dunia pendidikan. Dan apabila dipaksakan, maka tidak saja akan gagal dalam menyelesaikan problem sosial itu, tetapi, sudah dapat dipastikan, bahwa dunia pendidikan akan terseret arus persoalan masyarakat yang boleh jadi mengancam dunia pendidikan itu sendiri.
Dalam pandangan Islam dan merujuk pada konsep ta’dib yang ditawarkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menurutnya, kalaulah benar-benar difahami dan dijelaskan dengan baik, maka konsep ta’dib adalah konsep yang paling tepat untuk pendidikan Islam, bukannya tarbiyah atupun ta’lim sebagaimana yang dipakai pada masa itu. Dia mengatakan: “Ta’dib alredy includes within its conceptual structure the elements of knowledge (‘ilm), instruction (ta’lim), and good breeding (tarbiyah). So that there is no need to refer to the concept of education in Islam as tarbiyah-ta’lim-ta’dib all together”. Dalam terjemahan bebasnya, struktur konsep ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah), sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam itu adalah sebagaimana yang terdapat dalam tiga serangkai konotasi tarbiyah-ta’lim-ta’dib. Artinya, bahwa selama ini pendidikan dipahami hanya sebatas ta’lim dan tarbiyah. Padahal kedua model pendidikan ini tidak memenuhi pendidikan manusia secara sempurna. Keduanya hanya mengena aspek fisik dan kognitif saja. Padahal pendidikan yang sesungguhnya melebihi itu semua. Pendidikan semestinya menyentuh semua aspek fisik (jasadi), kognitif (fikri), dan spiritual (ruhi), yang hanya di dapat melalui proses ta’dib (Pendidikan Islam).


Kondisi objektif pendidikan Islam Dewasa ini
Di samping perencanaan yang buruk dan cara penanganan yang salah, keadaan yang menimpa dunia pendidikan dewasa ini bersumber dari kekacauan intelektual dan hilangnya identitas kebudayaan yang disebabkan oleh pengaruh program sekulerisasi. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran dan makna ilmu sendiri. Sekularasasi yang melibatkan tiga komponen terpadu, “penolakan unsur transenden dalam alam semesta, memisahkan agama dari politik dan nilai yang tidak mutlak atau relatif” , bukan saja bertentangan dengan fitrah manusia, yang merupakan tasawur (world view) Islam, tetapi juga memutuskan ilmu dari pondasinya dan mengalihkannya dari tujuannya yang hakiki. Dari sini dapat dilihat bahwa kekeliruan ilmu, akibat bercampur aduknya konsep ilmu yang ditawarkan oleh Islam dan Barat. Karena pada dasarnya konsep Barat bukan melahirkan keharmonisan kebaikan dan keadilan, melainkan sebaliknya.
Al-Attas mengungkapkan dengan jitu : ” ilmu yang yang sifatnya telah bermasalah, sebab ia telah kehilangan tujuan hakiki karena tidak dapat dicerna dengan adil. Akibatnya ia membawa kekacauan dalam kehidupan manusia bukannya keharmonisan dan keadilan: ilmu yang nampaknya benar tetapi lebih produkif kearah kekeliruan dan skeptisme, ilmu buat pertama kali dalam sejarah, membawa kekacau balauan pada isi alam semesta: hewan, tumbuhan, dan logam. Ilmu tidak lagi memiliki tujuan yang jelas dan tetap. Artinya kita tidak mengetahui kemana arah tujuan dari pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Bahkan tidak bisa dipahami puncak ilmu pengetahuan yang memang demi kepentingan manusia secara universal, lalu demi kepentingan apa ilmu pengetahuan ?
Dalam hal ini, yang mempengaruhi pendidikan untuk memajukan peradaban adalah, arus globalisasi dan berarti westernisasi yang terus menerus digemborkan oleh Barat. Konsep ini sebetulnya merupakan bentuk halus dari kolonialisme, dan di dalamnya terdapat program penyebaran pandangan hidup Barat yang terdiri dari nilai, konsep, sistem, kultur, tradisi, agama, kepercayaan dan lain-lain yang berbentuk kegiatan dan semua itu sudah terframe sesuai dengan Worldview Barat. Artinya Nilai, kultur, tradisi yang lepas dari kepercayaan Transendent, Konsep, dan system yang Positivistik terbatas demi kepentingan Duniawi, Serta Agama dan kepercayaan yang absurb tiada konsep agama itu sendiri yang jelas.
Pemahaman ilmu dan tasawwur Barat ini ditularkan di negara Islam setelah berlangsungnya penjajahan di mana banyak negara Islam yang dijajah oleh Inggris dan Prancis. Sehingga system yang mereka (baca: yang terjajah) berlakukan pun turut mengikuti pandangan Barat. Hal inilah yang mengakibatkan kekeliruan, dan manusia muslim kehilangan Adab. Menanggapi hal di atas, al-Attas berpendapat,” Ilmu hendakalah dipadukan dengan unsur-unsur dan konsep-konsep pokok Islam, setelah unsur-unsur dan konsep-konsep asing dikeluarkan dari rantingnya. Proses inilah yang dimaksudkan dengan Islamisasi atau pengislaman”. Di mana ilmu kembali dikaitkan dengan konsep agama yang memiliki kepercayaan Transeden. Sehingga ilmu tidak hanya dikembangkan demi kepentingan parsial tapi lebih bersifat universal, sebagaimana agama itu sendiri adalah untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Fenomena ini tidak pernah melanda umat Islam sebelumnya dan sangat berbahaya bagi prisisip-prinsip dasar filsafat pendidikan Islam, yaitu mencari keridoan Allah. Beberapa teoritisi muslim juga banyak yang memperhatikan dan mengkritik hasil-hasil negatif dari tujuan pendidikan yang pragmatis. Abduh, misalnya, menyadari bahwa tujuan pendidikan itu bukan tertuju untuk mobiliasi sosial-ekonomi, melainkan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik. Dia mengkritik habis-habisan sisi-sisi pragmatis dari sistem pendidikan Mesir dan menambahkan:
“Pendidikan ini disampaikan (imperted) sehingga murid bisa memperoleh gelar yang memungkinkannya memperoleh pekerjaan sebagai tenaga administrasi dalam sebuah departemen. Namun, hakikat bahwa jiwanya harus dibentuk dengan pendidikan (al-ta’lim wa al-tarbiyah) dan dengan menanamkan nilai-nilai yang luhur sehingga ia menjadi manusia yang saleh (rijalan shalihan fi nafsih), yang dengannya ia bisa mengerjakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dalam instansi pemerintahan ataupun dalam instansi lainnya, tidak masuk kepala para guru dan orang-orang yang mengangkat guru-guru tersebut”.
Menurut M Iqbal, tujuan pendidikan adalah ”menciptakan manusia”. Wacana semacam inilah yang tidak banyak disadari oleh masyarakat pada umumnya. Bentuk semacam ini yang diinginkan Barat dan diusung guna menjajah negara-negara kecil sebagai sasarannya. Adapun misi terselubung tersebut berangkat dari sebuah asumsi, bahwa strategi militer tidak lagi banyak memberikan manfaat yang signifikan dalam tindakannya. Hal ini berdasarkan fakta, bahwa strategi militer menghabiskan biaya perang yang begitu besar, baik secara materi maupun imateri..
Selain itu juga, fenomena di atas berdasarkan pada pengalaman pahit yang mereka telan dalam berbagai peperangan yang diciptakannya sendiri. Menanggapi kegagalan-kegagalan tersebut, mereka mempunyai strategi khusus, yaitu dengan menanamkan paham-paham yang bertentangan dengan kultur budaya Islam. Oleh karena itu, kasus yang menimpa umat Islam pada dewasa ini sebenarnya bukan terletak pada ekonomi, politik sosial dan budaya. Karena pada dasarnya kasus-kasus di atas dan yang terkait lainnya apabila dilacak bersumberkan pada pemikiran. Terlebih lagi, pada saat ini umat Islam ada yang menjalankan proses ini, yang pada gilirannya menyentuh ranah pendidikan.


Penanaman Adab Sebagai Faktor Penentu Utama Pembentukan Manusia
Berasumsi pada pernyataan di atas, bahwa hal ini yang sering dilupakan oleh umat muslim. Oleh karenanya tidak heran apabila ada sebuah steatemen umat Islam dewasa ini terlalu disibukkan dengan urusan dunia, yang pada akhirnya akan melalaikan tugas utamanya yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini. Berangkat dari pernyataan yang demikianlah yang sehingga menimbulkan kejumudan, fanatisme, taqlid, dan bid’ah khurafat.
Menyikapi wacana semacam ini, sudah barang tentu umat Islam sadar akan bahaya yang mengancamnya, yaitu hal-hal yang telah melalaikan persoalan umat dewasa ini. Persoalannya, hendak dibawa kemanakah umat yang sekarang ini dalam keadaan kritis. Maka untuk itu kita dituntut untuk selalu berpegang teguh dengan kitab suci Al-qur’an dan Hadist Rosuluallah SAW.
Dan tidak ada seorang pun menyangkal bahwa sejak dahulu hingga sekarang, pendidikan menjadi faktor penentu perkembangan manusia demi mencapai peradaban yang maju. Pendidikan juga mempunyai tujuan masing-masing sesuai dengan peradabannya. Barat misalnya, memformulasikan pendidikan sebagai proses penyadaran manusia. Poulo freire mengatakan, “The term ‘Conscientizion’ refers to learning to perceive social, political, and economic contradictions, and take action against the oppressive elements of reality. Arti bebasnya, bahwa pendidikan memainkan proses penyadaran, atau dengan “conscientization”, yang berarti penyadaran untuk mengetahui benturan sosial, politik dan ekonomi, serta untuk bertindak melawan elemen-elemen realitas yang menekan. Dari kesadaran akan realita yang berjalan itu, bisa diambil formula-formula baru dalam rangka menghadapi perkembangan zaman. Ketika cara pandang dilihat dengan kacamata agama maka akan menjadikan formula itu sesuai dengan konsep agama yang rahmatan lil ‘alamin.
Pada lain sisi, Islam juga mempunyai formulasi tersendiri untuk menerangkan apa tujuan daripada pendidikan yang diharapkan. Dalam konfrensi pertama tingkat dunia tentang pendidikan Islam dikatakan, ‘the aim of Muslim education is the creation of the “ good and righteous man” who worships Allah in true sense of term, builds up the structure of his earthly life according to the Sharia (Islamic Law) and employs it to subserve his faith’. Bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan manusia-manusia yang baik dan soleh yang menyembah Tuhan dengan sebenar-benarnya, membangun struktur kehidupan dunianya sesuai dengan hukum Islam demi terwujudnya Iman.
Dalam istilah al-Attas, proses menjadikan manusia yang baik adalah inculcation of ‘adab’, atau ta’dib. Yaitu proses untuk menjadikan peserta didik mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ini juga menunjukan bahwa semua materi sudah berada pada tempatnya masing-masing dalam pelbagai hierarki wujud, tetapi disebabkan kebodohan dan kesombongannya. Manusia kemudian mengubah tempat-tempat tersebut, sehingga terjadilah ketidakadilan. Maka jangan heran kalau pendidikan mereka tafsirkan dengan hanya sebatas pengetahuan, yang akhirnya terbentuk manusia-manusia yang sekuler.
Islam menginginkan bahwa pendidikan, bertujuan membentuk karakter manusia yang beradab. Dengan adab manusia dapat membedakan antara yang baik dan salah, termasuk membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lainnya. Jika seseorang tidak ditanamkan adab sejak dini, maka akan menjadikannya manusia yang tidak ada ubahnya dengan hewan.
Sehingga tidak heran kalau manusia semacam itu akan berusaha menggugat akan existensi Tuhannya, dan pada akhirnya membentuk individu yang tidak taat akan perintah-NYA. Hal semacam ini juga akan menciptakan para pemimpin yang tidak qualifed dalam tugasnya, diakibatkan oleh tidak adanya penanaman adab pada dirinya.
Wacana yang demikian juga akan memunculkan terbentuknya kinerja pemerintahan yang tidak sesuai dengan tujuan awalnya dan menimbulkan aroma ketidakadilan dalam kehidupan. Hal semacam ini bukan lagi menjadi rahasia umum bagi masyarakat kita, bahwa pemerintah yang tidak sehat akan menimbulkan kekacauan di segala sektor di negaranya.


Krisis Pengetahuan dan Pengaruh Westernisasi Sebagai Sumber Identifikasi
Dengan mengaca pada asumsi di atas, pembaca dapat menyimpulkan bahwa ketidakadilan disebabkan oleh lemahnya adab atau tidak adanya adab. Kemudian apa yang sebenarnya mendasari adab itu sendiri? al-Attas menjawab bahwa itu adalah pengetahuan. Kerena faktor utama yang mendasarinya adalah krisis pengetahuan. Merujuk pada pendapat al-Attas, bahwa dengan demikian dia akan tahu jati dirinya dengan benar, tahu” dari mana ia dan mau kemana kelak”.
Kemudian krisis pengetahuan dalam Islam juga dapat dikatakan akibat oleh pengaruh westernisasi yang ditawarkan Barat kepada Islam. Hal inilah bentuk penjajahan baru yang diusung Barat guna menjajah bangsa atau negara-negara kecil dan negara yang berkembang seperti Indonesia. Sehingga pada akhirnya, mereka dapat menanamkan suatu paham dan kultur budayanya yang seharusnya tidak dapat diterima. Yang ironis lagi yaitu, mereka (baca: yang terjajah) tanpa sadar mengikuti langkah-langkah yang ditawarkan oleh Barat. Sehingga lambat laun, kerangka pikirannya pun ikut terpengaruh, seperti halnya berpikir yang rasionalisme dan empirisme misalnya.
Tawaran pertama, menyuguhkan akan kerangka berfikir yang menyuguhkan akan existensi seseorang dengan senandung certesian ”Cogito Ergo Sum”. Sedangkan kerangka pikir kedua lebih menekankan akan pengalaman sensasional indrawi sebagai sumber pengetahuan. Walhasil, karena tidak sampai menyentuh kebenaran maka umat Islam sekarang dapat goyah dan mudah menemukan perubahan yang tidak menentu.
Lebih dari sekedar dua paham di atas, masyarakat Islam sekarang ini juga menerima saja tawaran-tawaran posmodernisme. Umat Islam sekarang berteman baik dengan Hermeneutika dan dekonstruksi yang hanya menawarkan relatifitas kebenaran. Umat Islam menjadi tidak tenang dengan kebakuan kebenaran yang sudah dilestarikan oleh ulama dahulu. Mereka terlihat tidak menyadari bahwa tawaran-tawaran westernisasi tersebut sudah tidak berhubungan dengan metafisika sehingga mereka menjadi pusing dengan nilai-nilai trensenden, dan jika kebenaran relatif, maka sebenarnya itu hanyalah prasangka yang tidak sedikitpun sampai pada kebenaran.
“dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangka saja. Sesungguahnya prasangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran(sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa menggantikan sesuatu yamg diperoleh dengan keyakinan). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.


Pengetahuan Sebagai Sumber Adab dan sebagai aktualisasi pendidikan Islam
Dari deskripsi di atas, setidaknya dapat dilacak bahwa secara makro orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan keterpaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta'dib (adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
Hal itu merupakan indikator bahwa pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan aspek kognitif (sensual–logis) dan psikomotorik (sensual-empiris). Hal ini relevan dengan aspirasi pendidikan Islam, yakni aspirasi yang bernafaskan moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan psikomotorik yang dikembangkan B.S.Bloom dkk. Domain iman amat diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran Islam tidak hanya menyangkut hal-hal rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal yang supra rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali didasari dengan iman, yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist. Domain iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai hidup peserta didik, dan dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal yang dilakukan.


Akhir al-kalam
Berbagai uraian di atas telah membukakan jendela cakrawala kita, bahwa penanaman adab adalah tujuan daripada pendidikan Islam. Dengan penanaman adab yang benar, maka akan menciptakan manusia yang pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan berdasarkan pengetahuan yang benar.
Kebenaran pengetahuan tidak terlepas oleh pendidikan. Jika pendidikan itu mengalami kegagalan dalam penanamannya, maka tidak akan luput juga pengetahuan mengalami hal yang serupa. Dalam hal ini tidak dapat dipungkiri, ini diakibatkan oleh bercampurnya budaya westernisasi dan yang digemborkan oleh Barat. Oleh karenanya, guna menjernihkan pendidikan, Islam dengan mudahnya mengingatkan kepada kita untuk kembali berpegang teguh kepada nash Al-qur’an dan hadits Rosuluallah SAW.
Mudah-mudahan urain singkat mengenai gagasan pendidikan Islam menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dapat memberikan sedikit gambaran dan manfaat akan konsep yang ditawarkan. Wallahu alam bisshowab.


Daftar Pustaka
Alqur’anul Karim
Badaruddin, Kemas, Drs, M. Ag, Filsafat Pendidikan Islam (analisis Pemikiran Prof. DR. Syed Naquib al-Attas), Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Maret 2007
Fahmy Zarkasyi, Hamid, DR, MA, M.Phil, Foreword, Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan kolonialis), Center for Islamic Occidental Studies, ISID-GONTOR, Th, 2007
Islamia, Thn.II No.6/Juli-September 2005
Masataka Takeshita, Insan Kamil: Pandangan Ibnu ‘Arabi, (Surabaya: Risalah Gusti, cet.I Maret 2005)
Muhaimain, Konsepsi Pendidikan Islam, Sebuah Telaah Komponen Dasar Kurikulum, Ramadhani, Solo, 1991
Muslih, Mohammad, Pendidikan Islam Dalam Kepungan Globalisasi, At-Ta’dib, Jurnal kependidikan Islam, Volume 4 Nomor 1 Gontor Syafar 1429
Naquib al-Attas, Syed Muhammad, Aims and objectives of Islam Education, Hodder and Stoughton King Abdulaziz University, Jeddah
_________________________________, Prolegomena to The Metaphysics of Islam: an Exposition of The Fundamental Elements of The Worlview of Islam, (Kualalumpur : ISTAC, 1995)
________________________________, The Concept of Education in Islam, a Frame work for an philosophy of education,( Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought civilization (ISTAC), 1993)
______________________________, Risalah Untuk Kaum Muslimin, CEII
Paulo Freire. 1972. Pedagogy of The Oppressed, translated by: Myra Bergmean Ramos. Penguin Educations. Great Britain
Wan Daud, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib al-Attas, penerbit Mizan, Bandung 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar