Minggu, 27 Juni 2010

Demokrasi Pendidikan Menurut John Dewey

DEMOKRASI PENDIDIKAN MENURUT JOHN DEWEY

Pendidikan memiliki ruang lingkup yang amat sangat luas. Hal tersebut dikarenakan pendidikan merupakan masalah yang berhubungan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Hal tersebut disebabkan karena pendidikan merupakan dasar kesuksesan bagi individu dan masyarakat. Secara umum ada pandangan teoritis umum tujuan pendidikan, pertama pandangan yang berorientasi pada kemasyarakatan dan yang kedua lebih berorientasi pada individu yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar. Oleh karena itu mengapa pemerintah di negara-negara maju sangat memperhatikan pendidikan. Hal itu disebabkan oleh anggapan mereka tentang adanya kekuatan besar dalam pendidikan untuk meningkatkan kemampuan individu dan juga masyarakat dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih maju dan sejahtera.
Dalam persepektif ini pendidikan merupakan usaha manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda untuk mengubah dan meningkatkan. Pendidikan ditinjau dari segi usaha meningkatkan kemampuan individu khususnya anak adalah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat. Para tokoh UNESCO menemukan pengertian pendidikan sebagai “ education is now engaged is preparinment for a tipe society which does not yet exist ”, atau pendidikan sekarang ini sibuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang belum ada. Menurut Garten. V. Good dalam dictionary of education pendidikan mengandung pengertian sebagai suatu proses perkembangan kecakapan seorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakat dan professional dimana seorang dipengaruhi oleh suatu yang terpimpin.
Dari berbagai pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwasannya pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh orang dewasa secara sadar yang telah memiliki dasar pengetahuan hidup yang lebih dari cukup untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan serta pengetahuan tentang kehidupan kepada generasi muda dalam rangka memberikan dan meningkatkan kemampuan (inside competence dan outside competence) generasi muda dalam segala segi kehidupan baik secara jasmani maupun rohani dengan berbagai sarana agar generasi muda selanjutnya lebih berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Dalam sejarah pertumbuhan pendidikan manusia, ada satu penggal sejarah yang diwarnai dengan pertentangan antara pendidikan yang dijalankan secara demokratis dan sebaliknya yang dilaksanakan dengan otoriter. Untuk itu muncullah suatu aliran progresivisme yang merupakan sebuah aliran filsafat pendidikan yang menekankan pada pentingnya pendidikan demokratis dengan tokohnya yang terkenal John Dewey subur dan berkembang di masyarakat barat. John Dewey merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam perancangan pendidikan orang Amerika sekaligus bertanggungjawab atas kehidupan moral bangsa ini yang mana pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pengembangan progresivisme Pierce dari metode menjadi teori kebenaran, agama, dan filsafat secara umum oleh William James dengan pragmatismenya. Filsafat pragmatisme dengan pandangannya terhadap ilmu (science) yang merupakan kemajuan (progress) selama sains itu selalu memperbaiki kesalahannya. Hal ini telah mempangaruhi John Dewey dalam pemikirannya tentang pendidikan.

John Dewey Riwayat Hidup Dan Pemikirannya Tentang Pendidikan.

John Dewey dilahirkan pada tanggal 20 oktober 1859 disebuah daerah pertanian dekat Burlington. Vermount. Dia adalah anak seorang pemilik toko di desanya. Ia memperoleh pendidikan pertamanya disekolah umum Burlington, kemudian melanjutkan ke universitas Vermount, dan ketika masih menjadi seorang mahasiswa dia berteman baik dengan Prof. H. A. P. Torrey yaitu orang yang membawa dan menguraikan semacam kelompok realism yang diadopsi dari Skotlandia. Setelah keluar dari Vermount pada tahun 1875, tahun 1879 Dewey menerima diploma kandidat, kemudian dia mengajar selama 3 tahun. Berkat intruksi dari Torrey, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya pada universitas John Hopkins dengan desertasinya The Psikologi Of Kant. Ia menyelesaikan program doktoral dalam bidang filsafat pada universitas tersebut pada tahun 1884.
John Dewey mula-mula mengajar di Chicago kemudian di universitas Columbia New York yang memiliki satu perguruan tinggi pendidikan guru yaitu teachers college. Di universitas Chicago ia menjadi ketua jurusan filsafat, psikologi, dan pedagogik, dan di universitas tersebut ia mendirikan sebuah sekolah percobaan (laboratorium sekolah) untuk menguji dan mempraktekkan teorinya. Sekolah ini diberi nama university elementaire school dan menjadi masyhur diseluruh dunia. Pada tahun 1884 ia diangkat menjadi dosen lalu asisten profesor dan profesor di universitas Michigan. Disini ia menjadi ketua jurusan filsafat sejak 1889 sampai 1894. Pada tahun 1889 ia diangkat menjadi profesor filsafat di universitas Minesota. Ia mengajar di universitas Columbia pada tahun 1904 sampai 1931 untuk memberikan filsafat dan pedagogik kepada akademi guru. Kemudian menikah dengan Alice Chipman pada tahun 1886.
Pada tahun 1905 ia pindah ke Columbia university di New York dan memberikan kuliah fisafat dan pendidikan di teacher’s college. Selama di universitas ini Dewey giat dalam kegiatan-kegiatan organisasi. Dan dia tinggal di New York lebih dari 40 tahun sampai pensiun dari mengajar pada tahun 1930. ia meninggal pada tanggal 1 januari 1952 di New York. selama hidupnya ia banyak menorehkan karya-karya yang terkenal di dunia diantaranya My Pedagogic Creed (1897), School And Society (1899), How We Think (1910), Democracy And Education (1916), The American Civil Liberties (1920), Impressions Of Sovyet Russia And The Revolutionary Word Mexico-China-Turki (1929), Experience And Education (1938) dan Education Today (1940).
Agar dapat memahami pendirian Dewey mengenai pendidikan dan pengajaran perlu diketahui tentang dasar-dasar pokok dari pandangan hidupnya yang meliputi beberapa teori diantaranya:
1. Dasar pokok dari filsafatnya adalah teori evolusi Darwin yang mengatakan bahwasannya hidup ini dinamis tidak statis. Dari sini Deweymenarik kesimpulan bahwa letak puncak kemajuan itu tidak dapat diketahui terlebih dahulu, hal itu terletak dihari kemudian dan bergantung pada kemajuan masyarakat tiap masa.
2. John Dewey merupakan penganut teori pragmatisme, benar tidaknya suatu teori tergantung pada berfaedah tidaknya teori bagi manusia dalam kehidupannya.sesuai dengan hal itu maka tujuan kita berfikir adalah memperoleh hasil fikir yang dapat membawa hidup kita lebih maju dan lebih berguna. Dan penilaian tentang benar tidaknya sesuatu tergantung pada guna atau manfaatnya untuk masyarakat serta kemajuan.
3. Dalam kejiwaan, ia menganut teori behaviorisme (tingkah laku) yang berasumsi bahwa kehidupan jiwa digerakkan dari luar, tidak dari dalam. Tiap perbuatan atau tingkah laku manusia adalah reaksi (respons) atas rangsangan (stimulus) dari luar, dan perbuatan manusia itu selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Menurut dasar-dasar diatas, menurut Ag. Soejono dapat ditarik kesimpulan bahwa menurut Dewey pendidikan itu ialah memberikan kesempatan untuk hidup dan hidup adalah menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kesempatan diberikan dengan jalan berbuat secara individu maupun kelompok untuk mendapatkan pengalaman sebagai modal berharga dalam berfikir kritis, serta produktif dan berbuat susila. sebenarnya pandangan-pandangan Dewey tentang pendidikan sukar diklasifikasikan kadang merupakan pengungkapan fakta, tetapi kadang ekspresi penilaian terhadap fakta. Dan fakta yang ia kemukakan ada tiga macam yaitu: hakekat manusia, masyarakat yang memiliki suatu sistem kelembagaan yang memiliki bagian-bagian yang saling bekerja sama, mengenai kondisi sekolah-sekolah.
Pandangan-pandangan John Dewey terhadap pendidikan secara umum pada dasarnya adalah upaya redefinisi pendidikan dan tujuan umum pendidikan. Definisi pendidikan menurut Dewey adalah proses dimana masyarakat mengenal diri. Dengan kata lain pendidikan merupakan proses agar masyarakat menjadi survival untuk menjadi kekal dan abadi. Secara khusus rekomendasi Dewey terhadap pendidikan mecakup dua hal diantaranya: Pertama. metode pendidikan. Menurut Dewey metode pendidikan adalah upaya menanamkan disiplin, tetapi bukan otoritas. Yang penting adalah mengontrol anak dari eksternal. Metode pengajaran dengan displin berarti seorang mengarahkan pelajaran dengan disiplin dengan cara: 1). Semua paksaan harus dibuang, 2). Agar dapat muncul minat, guru harus intim dengan kecakapan dan minat setiap murid, 3). Guru harus menciptakan situasi di kelas sehingga setiap orang turut berpartisipasi dalam proses belajar.
Kedua. kurikulum. Rekomendasi Dewey berkaitan dengan kurikulum tergantung pada definisinya tentang pendidikan dan pandangannya tentang tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah meningkatkan lembaga-lembaga yang membentuk masyarakat. Sedangkan isi pendidikan adalah mata pelajaran yang memberikan impulse kepada anak didik. Isi tersebut meliputi menejemen dan pelaksanaan semua materi pelajaran. Disamping itu pandangan Dewey mencakup beberapa point yaitu:
a) Education as a necessity of life.
Dewey memandang bahwa pendidikan merupakan kebutuhan hidup. Dewey mengartikan pendidikan adalah transmisi yang dilakukan melalui komunikasi. Dan hidup itu sendiri pada dasarnya adalah proses perbaikan diri. maka kelestarian hidup itu hanya dapat dijaga dengan perbaikan yang konstant yaitu pendidikan.

b) Education as a social fungction.
Masyarakat disini lebih daripada sebuah tempat dan perantara interaksi watak seorang dengan lingkungan. Lingkungan sosial lebih merupakan keseluruhan aktifitas seseorang terutama dalam melakukan aktifitas fisik sebagai pengaruh salah seorang dalam kelompok tersebut. Secara gradual ini merupakan efek pendidikan. dan masing-masing individu mempunyai tujuan atau partisipasi dalam beberapa aktivitasnya.
c) Education as direction
Pada situasi sosial tertentu anak berhubungan langsung dengan perbuatan mereka. untuk apa mereka melakukan dan berbuat secara tiba-tiba. Aktivitas mereka ini secara langsung merupakan hasil dari pengertian dari partisipasi-partisipasinya. Sehingga penampilan berbeda dengan tindakan seseorang. Hal ini merupakan akhir dari sebuah tindakan sebagai pokok dari kontrol sosial secara tidak langsung. Dan sekolah merupakan kesempatan yang besar bagi penafsiran sebuah aktivitas di dalam pengajaran dan mereka mungkin memperoleh perasaan sosial atas kekuatan mereka sendiri dari materi-materi serta peralatan yang digunakan.
d) Education as growth.
Kekuatan belajar dari makna pengalaman-pengalaman adalah suatu kebiasaan. Kebiasaan tersebut merupakan kapasitas aktif untuk mengatur aktivitas. Dan pendidikan adalah salah satu bagian dari pertumbuhan yang mana kriteria nilai dari pendidikan persekolahan merupakan perluasaan dalam membuat efektifitas hasrat seseorang secara nyata.
e) Education as preparation.
Dewey mengatakan” preparing or getting ready for some future duty or privilege’. Pendidikan adalah mempersiapkan atau mendapatkan kesiapan untuk banyak tugas atau tanggung jawab mendatang.
f) Education is unfolding.
Dewey mengatakan”the notion that education is an unfolding from within appears to have more likeness to the conception of growth which has been set forth”. Dewey lebih condong bahwa pendidikan dibentangkan dari yang nampak dan memiliki banyak kesamaan konsepsi pertumbuhan yang menjadi perlengkapan seterusnya.
g) Education as training of faculties.
“Education is the training of these faculties through repeated exercise”. Pendidikan merupakan latihan dari bagian-bagian melalui pengulangan pertanyaan.
h) Education is formation.
Pendidikan merupakan pembentukan diri. Implikasi pendidikan dari doktrin ini ialah: pertama. tindakan diri dibentuk oleh penggunaan obyek yang menimbulkan rencana dari reaksi-reaksi lain. Formasi diri ini adalah keseluruhan materi penyajian yang pantas menjadi materi pendidikan. Kedua, sejak penyajian diri mengandung penampakan bagian-bagian kontrol asimilasi dari penyajian-penyajian baru, karakter mereka sangat penting setelah efek dari penyajian – penyajian baru adalah sebagai penguat kelompok sebelumnya.
i) Education as recapitulation and restrospection.
Dewey menyatakan bahwa pendidikan harus mampu menjadikan seseorang pribadi. Individu memiliki aktivitas asal sebagai dasar kenyataan. Mereka dihasilkan dengan jalan demikian atau berasal dari satu keturunan. Belajar yang dihasilkan dari masa lampau menurut Dewey tidak akan membantu kita mengerti keadaan sekarang karena hal itu bukanlah bertujuan pada hasil. Masa kini menghasilkan masalah-masalah yang memimpinnya untuk menyelamatkan masa lampau. Masa lalu adalah sumber daya yang besar bagi imajinasi. Di sini dapat kita lihat bahwasanya pengetahuan masa lampau dan masa kini memiliki sinergisitas yang harus dipertahankan untuk mewujudkan suatu pendidikan yang lebih berhasil. Masa lalu sebagai talak ukur dalam melangkah kedepan dengan melihat aspek positif dan negative yang terjadi selama masa tersebut sedangkan pengetahuan masa kini membentuk suatu kondisi yang memunculkan dan mengkombinasikan realita yang ada. Kemudian dari kedua pengetahuan tersebut dapat ditarik benang merah yang akan memunculkan suatu teori baru yang efektif dalam pendidikan.
j) Education as reconstruction.
Pada pertumbuhan anak dan orang dewasa semua berdiri pada level pendidikan. Dan ide tentang kemajuan secara formal disimpulkan dalam pengalaman rekonstruksi yang terus menerus bagi kondisi yang akan datang. sebagai pembuka bentuk eksternal dan rekapitulasi masa lalu. Tujuan pendidikan di sini haruslah memiliki dan melakukan perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik untuk menjamin kualitas suatu pendidikan dan kuantitas nilai materi dalam pendidikan tersebut.
k) Education as national and as social.
Perhatian yang sistematis terhadap pendidikan merupakan makanan yang baik bagi pemulihan dan pemeliharaan integritas politik dan kekuasaan. Identifikasi dari situasi historis dapat memindahkan dorongan pendidikan suatu negara dengan nasionalistik dalam kehidupan politik. Suatu fakta membuktikan bahwa di bawah pengaruh pemikiran Jerman, pendidikan menjadi berfungsi umum dan hal ini diidentifikasikan dengan realisasi ideal suatu negara. Menurut Dewey suatu masyarakat harus mempunyai tipe pendidikan yang memberikan individu interest pribadi dalam relasi dan kontrol sosial, dan kebiasaan-kebiasaan sosial dan dirubah tanpa memperkenalkan kekacauan.

Demokrasi pendidikan.
Impian adanya pendidikan bermutu hanya dapat diwujudkan dalam alam demokrasi pendidikan. Demokrasi pendidikan hanya dapat diwujudkan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis. Suatu tatanan masyarakat yang telah memiliki sistem yang mengatur segala kegiatan dengan baik, baik kegiatan yang bersifat internal maupun ekternal. Demokrasi pendidikan dalam pengertian luas patut selalu dianalisis sehingga memberikan manfaat dalam praktik kehidupan dan pendidikan yang mengandung tiga hal. diantaranya:
1. Rasa hormat terhadap harkat sesama manusia.
2. Setiap manusia memiliki perubahan kearah pemikiran yang sehat.
3. Rela berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.
Dalam setiap pelaksanaan pendidikan selalu terkait dengan masalah-masalah antara lain:
1. Hak asasi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan.
2. Kesempatan yang sama bagi warga negara untuk memperoleh pendidikan.
3. Hak dan kesempatan atas dasar kemampuan mereka.
Dari prinsip-prinsip diatas dapat dipahami bahwa ide-ide dan nilai demokrasi pendidikan itu sangat banyak dipengaruhi oleh alam pikiran. sifat. dan jenis masyarakat dimana mereka berada. karena dalam kenyataan bahwa pengembangan demokrasi pendidikan itu akan dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan dan penghidupan masyarakat. Sedangkan demokrasi dalam proses pendidikan dapat diarahkan kepada pembawaan kultur dan norma keadaban. Dalam proses pembelajaran yang demokratis fungsi pendidik adalah sebagai fasilitator, dinamisator, mediator, dan motivator. Paolo Freire menyatakan bahwa untuk mencapai demokrasi pendidikan perlu diciptakan kebebasaan interaksi antara pendidik dan peserta didiknya dalam proses belajar dikelas. Jadi demokrasi pendidikan akan mendorong tumbuhnya iklim egalitarian (kesetaraan atau kesamaan derajat dalam kebersamaan) antara pendidik dan peserta didik. disamping itu demokrasi pendidikan merupakan cara yang paling strategis bagi pembentukan civil society. Atau demokrasi pendidikan dapat diartikan sebagai proses pendidikan yang dilaksanakan sesuai dengan cita-cita dan kehendak civil society.
Jadi demokrasi pendidikan mengandung arti proses menuju demokrasi dalam pendidikan. Tujuan demokrasi pendidikan adalah menghasilkan lulusan yang merdeka, berpikir kritis, dan sangat toleran dengan pandangan dan praktik demokrasi.

Bagaimanakah demokrasi pendidikan John Dewey?
Konsep demokrasi dalam pendidikan, sebagaimana dinyatakan dewey “ individu lebih didominasi oleh hasrat alamiah. Hasrat yang tinggi ini memunculkan rasa kasihan, keramahan, serta beberapa watak yang menonjol. Hasrat alami membuat individu sebagai warga negara yang baik sebagai pembela negara, tapi keterbatasan mereka berhubungan dengan kekurangan-kekurangan yang merupakan sebuah kapasitas yang digenggam secara universal. Hasrat yang tinggi terbentuk dalam pengalaman dan kebebasan. Dan satu-satunya kebebasan yang tetap penting adalah kebebasan intelegensi yaitu kebebasan observasi dan pertimbangan yang dilakukan atas nama sejumlah tujuan yang hakekatnya berharga. Kekeliruan yang paling sering dilakukan terhadap kebebasan adalah menyamakan dengan kebebasan bergerak atau sisi dengan sisi eksternal atau fisik dari kegiatan. Namun sisi eksternal atau fisik dari kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan dari sisi internal kegiatan yaitu kebebasan berfikir. berkeinginan. dan bertujuan.
Keuntungan yang secara potensional dalam peningkatan kebebasan ilmiah yaitu pertama; tanpa kebebasan tersebut. tidak mungkin bagi seorang guru untuk memperoleh pengetahuan tentang semua individu yang ditanganinya. yang kedua ditemukan dalam sifat dasar dari proses belajar itu sendiri. Disinilah minat sebagai panji-panji yang mengangkat sang anak sebagai pusat pendidikan sehingga menyerukan kebebasan dan inisiatif.
Dari beberapa point kebebasan yang dibawa oleh John Dewey ada beberapa konsp demokrasi pendidikan yang menjadi pokok konsep pendidikannya. diantaranya;

a. Kritik John Dewey terhadap filsafat dan praktek pendidikan tradisional.
Sejarah teori pendidikan ditandai oleh oposisi antara ide bahwa pendidikan merupakan pengembangan dari dalam kodrat manusia dan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan dari luar diri manusia bahwa pendidikan berdasarkan bakat alami dan bahwa pendidikan merupakan suatu proses upaya mengatasi kecenderungan alami dan mengantikannya dengan berbagai kebiasaan yang diperoleh lewat tekanan eksternal. Dan dewasa ini sekolah cenderung mengambil bentuk kontras antara gaya pendidikan tradisional dan gaya pendidikan progresif.
Ide-ide yang mendasari gaya pendidikan tradisional dirumuskan secara luas tanpa kualifikasi yang diperlukan untuk suatu pernyataan akurat. Jadi ide-idenya biasanya menyangkut materi pokok pendidikan yang terdiri dari perangkat informasi dan keterampilan yang telah dihasilkan pada masa lampau. karena itu tujuan utama sekolah ialah mewariskan segala pengetahuan tersebut kepada generasi yang baru. Dalam hal ini faktor mendasar dalam proses pendidikan adalah kondisi mengada-being-yang kuncup dan faktor lain adalah sasaran-sasaran sosial tertentu. maka nilai-nilai yang mengejawantah dalam pengalaman orang dewasa.
Kemudian ia mengkritik sekolah traditional mengenai beberapa hal. karena dianggap bukan tidak mampu menyentuh aspek-aspek pendidikan yang meliputi ranah afektif, kognitif dan psikomotorik, kritikannya tersebut diantarannya mengenai; bahan pengajaran, cara guru mengajar, cara murid belajar, dan cara menyelenggarakan sekolah. Pertama; disekolah kuno menurutnya terlalu banyak mata pelajaran yang diajarkan. karena tujuan sekolah kuno ialah agar para siswa dapat menduduki jabatan intelektual dan materio sentris. Menurut dewey tidak boleh kebutuhan golongan terbesar dikalahkan oleh kebutuhan golongan yang kecil. Oleh karena itu mata pelajaran yang banyak jumlahnya dan menimbulkan pendidikan intelektualitas dan itu perlu dikurangi dan diganti dengan pengajaran dan latihan kerja. Disamping itu pengetahuan yang diberikan di sekolah kuno kepada muridnya merupakan pengetahuan yang telah diolah. disiapkan. dan dipecahkan kesulitannya terlebih dahulu oleh orang dewasa. hal ini menurut dewey tidak ada gunanya karena anak mengalami proses berfikir sendiri dari permulaan hingga akhir sesuai dengan tingkat kemajuannya sendiri.
Kedua kritik Dewey terhadap guru dan sarana mengajar di sekolah kun guru meilii peran yang sangat memnentukan segala sesuatu (guru-central). Jadi guru yang memaksakan bahan pengajranan kepada anak. berfikir untuk anak. memecahkan soal untuk anak. sehingga yang aktif justru sang guru bukan anak didik. menurut Dewey tidak perlu adanya minat paksaan sebab kecuali minat langsung juga pada anak minat langsung dapat juga pada anak itu ditimbulkan minat yang tidak langsung. Guru dalam hal ini harus hanya berfungsi sebagai penunjuk jalan saja. pengamat tingkah laku anak untuk dapat mengetahui hal yang menarik minat anak. seperti Montessori. Dan dengan perkembangan tersebut ia dapat menentukan masalah yang akan dijadikan pusat minat anak.
Ketiga murid dan cara belajar. disekolah kouno muridhanya mendengarkan. It is made for listening! Kata Dewey sekolah tradisionalia namai sekolah anak, sekolah dengar, sekolah percaya, juga sekolah buku karena anak dipaksa mengambil hal yang telah dituturkan dan lengkap difikirkan untuknya dalam buku. Disini murid tidak mendapatkan kebebasan. tidak ada kesempatan untuk mengeluarkan sesuatu dengan spontan. perbuatan dan pikiran murid tergantung pada orang lain, lisan dari guru, maupun tertulis dari buku. Keadaan seperti itu wajid diubah, anak harus bekerja bersama-sama, menyelidiki dan mengamati sendiri sesuai dengan insting yang ada padanya. Dengan jalan ini anak belajar sambil bekerja dan bekerja sambil belajar. Inilah makna istilah learning by doing yang dikehendaki oleh John Dewey. Disini anak harus dididik kecerdasannya agar padanya timbul hasrat untuk menyelidiki secara teratur dan akhirnya dapat berfikir secara keilmuwan, obyektif, logis, dan yang dipentingkan ialah jalan berfikir bukan hal yang difikirkan.
Keempat. penyelenggaraan sekolah. alat dan peraturan yang ada di sekolah tradisional sakan-akan memaksa anak untuk pasif, perbuatan di sekolah berlangsung kaku, tidak memberikan kebebasan bertindak, bentuk bangku, gedung, rencana pelajaran, semuanya mengikat, tidak memberikan kebebasan kepada anak maupun guru, tidak ada kesempatan untuk mengadakan penyelidikan (survey) dan percobaan jumlah mata pelajaran terlalu banyak dan dalam kelas terlalu banyak murid.
Apabila kritik tersirat itu dirumuskan secara explisit, agaknya ia berbunyi seperti berikut: Pada hakekatnya pola pendidikan tradisional bersifat paksaaan dari atas dan dari luar pendidikan tradisional memaksakan seluruh norma, materi pokok pelajaran, dan metode orang dewaa kepada anak muda yang hanya dapat bertumbuh secara berlahan menuju kematangan. Jurang itu sedemikian lebarnya sehinggga materi baik pokok pelajaran, metode belajar dan bertindak yang dituntut itu menjadi asing bagi kesanggupan yang ada pada anak muda.


b. Sekolah kerja
Timbulnya sekolah kerja adalah pelaksanaan dari aliran pendagogik yang dinamai pendagogik special. Setelah timbulnya aliran nasionallisme orang berpendapat bahwa pengetahuan adalah kuasa, knowledge is power, pengajaran dan pendidikan dalam sekolah menjadi amat individualistis dan intelektualistis, dan hasilnya ialah anak didik menjadi bersifat individualistis dan masyarakat menjadi kapitalis.
Kemudian aliran sosial dalam masyarakat menghendaki berubahnya masyarakat kapitalis tersebut yang sistem pengajaran dan pendidikannya. Bukan pengetahuannya tetapi keprigelan, kerja produktif, watak kesediaan mengabdi bukan pengetahuan yang berkuasa melainkan kemampuan. Dan tak seorang pun menyangka bahwa bahwa seorang warga negara yang biasa yang baik de facto dikuasai oleh sejumlah kontrol sosial dengan sejumlah kontrol sosial itu tidak terasa pembatasan terhadap kebebasan pribadi.
Jadi yang dimaksud dengan sekolah kerja ialah sekolah yang pusatnya terletak pada keaktifan pribadi anak, jasmani maupun rohani dan dasar sekolah kerja pada umumnya bertentangan dengan dasar sekolah lama, konfendional, Sedangkan dasar-dasar sekolah kerja diantaranya:
1. Dalam sekolah kerja anak harus aktif berbuat. mengamati sendiri, mencari jalan pemecahan sendiri dalam kesukaran, memikirkan, dan memecahkan sendiri yang dihadapi dan berinisiatif.
2. Pangkal dan tujuan usaha pendidikan dan pengajaran harus terletak pada anak itu sendiri, tidak pada metode, bahan pengajaran atau guru.
3. Sekolah kerja mendidik murid agar menjadi suatu kepribadian yang berani berdiri sendiri, bertanggung jawab untuk menjadi anggota yang baik dari suatu masyarakat. Inilah segi sosialnya.
4. Bahan pengajaran tidak diberikan terpisah-pisah melainkan sebagai suatu keseluruhan atai totalitas dengan suatu masalah hidup sebagai pusat.
5. Sekolah kerja tidak menginginkan pengetahuan sedia yang sebanyak-banyaknya yang diperoleh dengan hafalan dan menirukan, tetapi menghendaki pengetahuan dan keprigelan.
6. Sekolah kerja menganggap bahwa pendidikan fikir tidak ada gunanya. tetapi anak harus dididik berfikir dengan mengalami seniri proses berfikir secara kanak-kanak.
7. Pendidikan akhlak merupakan suatu segi penting dalam pendidikan sosial. maka sekolah kerja harus merupakan suatu masyarakat, tempat mendapatkan latihan dan pengalaman yang amat penting artinya untuk pendidikan sosial, watak dan kecerdasan.
8. Sekolah kerja mendidik anak melalui berbagai ketrampilan agar suka bekerja produktif sesuai dengan bakatnya.
Dari dasar-dasar diatas dapat diambil kesimpulan bahwasannya sekolah kerja yang merupakan perwujudan dari progresivisme pendidikan mempunyai keterikatan yang kuat dengan masyarakat dan upaya mengembangkannya melalui generasi mudanya. Karena bagaimanapun masyarakat tidak mampu mengadakan kegiatan pendidikan tanpa adanya sebuah intisari dengan tujuan tertentu begitu juga lembaga sekolah harus menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat karena hal ini merupakan aturan yang benar untuk bekerja dengan baik.
Keterangan-keterangan diatas merupakan gambaran tentang sekolah kerja. Sekolah kerja menurut John Dewey umumnya disebut pengajaran proyek atau metode soal maupun masalah. John Dewey yang menanamkan benih-benihnya tetapi yang menumbuhkan dasar itu menjadi suatu sistem pengajaran proyek atau metode (problem) itu ialah W.H. Kilpatrick.
Pendidikan menurut Dewey ialah memberikan kesempatan untuk hidup. Hidup ini menyesuaikan diri dengan menyesuaikan diri dengan masyarakat, kesempatan diberikan dengan jalan berbuat secara individual maupun rombongan untuk mendapatkan pengalaman sebagai suatu modal berharga dalam berfikir kritis serta produktif dengan berbuat susila. Dan sekolah yang dikehendaki oleh John Dewey adalah sekolah kerja dimana masyarakat harus menyediakan segala sesuatu yan dibutuhkan oleh warganya unutk pendidikan agar tidak tergantung kepada dogma, melainkan pada cara berfikir bebas, berdisiplin, obyektif, kreatif dan dinamis.
Disamping itu betapa pentingnya arti bekerja menurut Dewey, karena bekerja memberikan pengalaman dan pengalaman menuntunberfikir seseorang sehingga orang tersebut dapat bertindak benar dan bijaksana, pengalaman juga mempengaruhi budi pekerti seseorang, pengalaman itu sendiri terbagi menjadi pengalaman positif dan negatif.
Kedua aspek inilah yang telah mendasari konsep sekolah kerja menurut john dewey yang pada dasarnya sekolah kerja menurutnya berdasarkan atas dua segi yaitu segi psikologis dan segi sosiologis.
1. Dasar psikologis.
Yang termasuk dalam dasar psikologisnya diantaranya: cara memberikan pelajaran wajib disesuaikan dengan tingkatan perkembangan. cara berfikir. dan cara bekerja anak. Penentuan bahan pelajaran juga wajib disesuaikan dengan perhatian dan keperluan anak sebagai akibat dari instingnya. Dewey mengenal 4 insting yaitu: 1). Insting sosial, 2). Insting membentuk dan membangun, 3). Insting menyelidiki, 4). Insting kesenian.
a) Insting sosial
Yang dimaksud dengan insting sosial adalah keinginan anak untuk mengadakan hubungan dengan orang disekitarnya. Ini dapat dilihat pada waktu anak bermain. Mereka bermain sebuah permainan bersama-sama dengan teman bermainnya. Frobel mengatakan bahwa teman adalah alat permainan yang terbaik. Disamping permainan masih ada alat penghubung sosial yang digunakan dalam pergaulan yaitu bahasa. Bahasa tidak hanya merupakan suatu alat penghubung dalam pergaulan semasa anak hidup tetapi juga alat penghubung dengan generasi yang lampau dan generasi yang akan datang. Berhubung dengan insting sosial ini anak perlu diberi banyak kesempatan untuk bekerja bersama-sama dengan menggunakan bahasa sebaik-baiknya.
b) Insting membangun dan membentuk.
Insting membangun dan membentuk dapat dilihat ketika anak bermain-main. Mereka membuat kolam, jembatan, rumah, roti, dan lain-lain dengan bahan yang belum berbentuk separti pasir, tanah, kayu, air dan sebagainya untuk kemudian dirusak, diperbaiki dan dirusak lagi. Juga dalam hal insting membentuk pada anak. Dewey sependirian dengan Frobel.
c) Insting menyelidiki.
Bukti adanya insting menyelidiki ialah bahwa anak itu suka merusak segala sesuatu yang ia pegang. Ia ingin mengetahui apa sebabnya mobilnya dapat berjalan, apakah isi perahunya, apakah bonekanya juga berdarah seperti dirinya apabila ditusuk pisau dan sebagainya.
d) Insting kesenian.
Insting kesenian adalah kelanjutan dari insting membangun. Anak ingin menghias hasil perbuatannya agar menjadi lebih baik dipandang mata. Rumah-rumahan yang baru saja selesai tidak ditinggalkan begitu saja. rumah itu dihiasi dengan berbagai alat, bendera, daun, bunga, tanaman, gambaran, dan lain sebagainya. Kesukaan anak untuk menari, menyanyi, menggambar dengan warna menmbah bukti bahwa pada anak ada insting kesenian itu.
2. Dasar sosiologis.
Dewey berpendapat bahwa tujuan pendidikan dan pengajaran adalah kepentingan kemajuan masyarakat. Tiap anggota masyarakat berkewajiban mengembangkannya dan anak wajib dibimbing ke arah itu. Jika bahan pegajaran diambil dar masyarakat dan pengajarannya dilangsungkan di tengah masyarakat maka dapat dikatakan bahwa pengajaran dijalankan oleh masyarakat, untuk masyarakat, dan dalam masyarakat. Dewey mengatakan bahwa tenaga-tenaga itu (anak) harus diabdikan pada kehidupan sosial, jadi mempunyai tujuan sosial. Maka dari itu pendidikan adalah proses sosial dan sekolah adalah sesuatu lembaga sosial.
Berdasarkan sekolah kerja yang ia prakarsainya, masyarakat harus menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi pendidikan warganya. Dan materi pelajaran disekolah harus diberikan secara terpadu dan dipraktekkan dalam masyarakat anak untuk memenuhi kebutuhannya. Pengalaman anak yang diperoleh di sekolah seharusnya dipakai untuk hidup dalam masyarakatnya dikemudian hari. Kehidupan seharusnya menjadi pusat bahan pengajaran (life central education).
Dalam kaitannya dengan bahan pelajaran. sekolah kerja mengajak kita untuk mengingat sifat manusia, minat dicoba ditarik ke arah hal-hal yang menyenangkan, pada kenikmatan-kenikmatan yang langsung dan tidak pada rasa sakit atau penderitaan lain. Dan jalan keluarnya adalah dengan mempsikologikan bahan pelajaran, mengubah bahan-bahan pelajaran, mengembangkannya di dalam bentangan dan batasan-batasan wilayah kehidupan anak dengan membiarkan saja pelajaran apa adanya dan memakai metode tipuan untuk membangkitkan minat pada pelajaran- bukannya mempelajari apa yang diminati berusaha membuat pelajaran menjadi menarik- bukannya minat itu menentukan pelajaran.
Berangkat dari hal diatas diketahui bahwasannya kekuatan-kekuatan anak saat ini yang harus mengemuka. potensi-potensinya saat ini mesti dilatih, sikap-sikapnya perlu diujudkan. Disinilah letak tugas guru yang formil yang cenderung hanya mengembangkan minat. Sehingga mata pelajaran yang diberikan berpusat pada masalah yang bernilai fungsional untuk anak. Dengan jalan itu tidak akan terpisah antara teori dan prakteknya, sekolah dan masyarakat anak.
Pada tahun 1896 Dewey memaklumkan dan mengusulkan suatu gagasan mengenai sekolah yang akan mendekatkan berbagai upaya teoritis dengan berbagai tuntunan praktis sebagai komponen yang paling esensial dari fakultas ilmu pendidikan. Inilah awal penerapan sekolah kerja menurutnya. Yang menjadi inti kurikulum Dewey adalah apa yang disebut okupasi. yaitu suatu kegiatan anak yang meniru atau berfungsi secara paralel dengan berbagai kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sosial orang dewasa. Kegiatan okupasional memiliki dua arah yaitu: terarah kepada studi ilmiah mengenai berbagai material dan proses yang terlibat dalam cara berfungsinya materi itu dan peran mereka di dalam masyarakat dan budaya. Maka dari itu fokus tematik bagi semua okupasi bukan hanya sebagai kesempatan untuk berbagai latihan manual dan studi sejarah melainkan juga untuk pengetahuan matematika, geologi, fisika, biologi, kimia, membaca, seni musik, dan bahasa.
Dalam contoh sekolah diatas kita tidak hanya melihat bagaimana minat anak terhadap aktivitas khususnya sendiri (membuat kebun), melainkan bagaimana cara membuat sesuatu memungkinkan si anak berkenalan dengan berbagai metode pemecahan masalah ekperiemental dimana kesalahan merupakan bagian penting dari suatu proses belajar. Menyajikan kepada anak pengalaman langsung disertai berbagai situasi problematik yang mereka ciptakan sendiri. Jadi sekolah kerja harus menyelenggarakan dan mengatur sekolahannya agar anak dapat bekerja dengan bebas dan spontan. Gedung dan alat pengajaran wajib disesuaikan dengan tujuan itu. Antara berbagai tingkatan sekolah dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi harus ada satu organisasi yang sama.

c. Pendidikan sosial dan kesusilaan.
Salah satu letak demokrasi pendidikan menurut Dewey terdapat pada pendidikan sosial dan kesusilaan yang ia gagaskan. Di sekolah Dewey tidak diutamakan kecerdasan walaupun kecerdasan penting tetapi bukan yang utama. Pendidikan kemasyarakatan dan kesusilaan menurut dewey amat erat hubungannya. Disinilah sebuah sekolah harus merupakan suatu masyarakat kanak-kanak yang sesuai dengan tingkatan kemajuan anak.
Bekerja sendiri dan bersama-sama disamping mengandung pendidikan kecerdasanyang amat penting artinya untuk pendidikan sosial juga merupakan pendidikan budi pekerti atau kesusilaan. Dewey merendahkan sekali pendidikan kesusilaan yang diberikan hanya dengan memberitahu dan menyuruh percaya pada dogma kesusilaan yaitu apa yang dinamai luhur dan apa yang dinamai hina. Pengalaman anak dalam bekerja harus dapat menumbuhkan pengertian dan minat terhadap kaidah hina dan luhur itu dan juga menimbulkan hasrat untuk berbuat luhur serta menghindari perbuatan hina.
Tetapi pengertian minat dan hasrat belum cukup. Yang terpenting adalah perbuatan luhur. Dengan bekerja sendiri dan bersama (memasak, memital, menenun, dan lain-lain) akan sampai pada kemampuan menyusun pembagian pekerjaan yang baik, memilih pemimpin dan penolongnya, bekerja bergotong royang, bersaing secara sehat, juga akan timbul suasana saling menceritakan pengalaman dan bertukar pikiran sehingga terciptalah tata tertib batin yaitu tata tertib atas dasar keinsyafan.
Referensi
Al-Abrasyii, Muhammad Attiyah. Tanpa Tahun. Ruuhu At-Tarbiyah Wa At-Ta’liim. Cetakan Kesepuluh. Al-Qaahirah; Daar Ihkyaau Al-Kutub Al-‘Arabiyah.
Baihaqi, MIF. 2007. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan. Dari Abendanon Sampai K. H. Imam Zarkasyi. Cetakan Pertama. Bandung; Penerbit Nuansa.
Butler, J. Donald. 1957. Four Philosophies And Their Practice In Education And Religion. Revised Edition. New York; Harper And Brothers Publisher.
Dewey, John. et. al. 2002. Pengalaman Dan Pendidikan. Cetakan Pertama. Alih Bahasa Oleh; John De Santo. Yogyakarta; Kepel Press.
Dewey, John. et. al. 2003. Dalam Menggugat Pendidikan Fundamentalis. Konservative. Liberal. Anarkis Oleh Paolo Freire. Ivan Illich. Enrich Fromm. dkk. cetakan ke- 4. Alih Bahasa Oleh; Omi Intan Naomi. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
Djumransjah, M. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cetakan Pertama. Malang; Bayu Media Publishing.
Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa. Mengungkap Hakikat Bahasa, makna, dan tanda. Cetakan pertama. Bandung; PT Remaja Rosda Karya.
Idi, Abdullah Dan Suharto, Toto. 2006. Revitalisasi Pendidikan Islam. Cetakan pertama. Yogyakarta; Tiara Wacana.
Iman, Muis Sad. 2004. Pendidikan Partisipatif. Menimbang Konsep Fitrah Dan Progressivisme John Dewey. Cetakan Pertama. Yogyakarta; Safiria Insani Press.
Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Cetakan ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Langgulung, Hasan. 2003. Pendidikan Islam Dalam Abad 21. Cetakan ketiga. Jakarta; PT. Pustaka Al-Husna Baru
Mastuhu. 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21. Cetakan pertama. Yogyakarta; Safiria Insani Press.
Prasetya. 2000. Fisafat Pendidikan Untuk IAIN. PTAIN. PTAIS. cetakan ke-dua. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Purwanto, M. Ngalim. 2003. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis. Edisi Kedua. Cetakan Kelimabelas. Bandung; PT. Remaja Rosdakarya.
Soejono, Ag. 1978. Aliran-Aliran Baru Dalam Pendidikan. Bagian Ke-1. Cetakan Kelima. Bandung; Penerbit CV. Ilmu.
Tafsir, Ahmad. 2001. Filsafat Umum. Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Cetakan Kesembilan. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.
Wan Daud, Wan Mohd. et. al. 2003. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed Naquib Al-Attas. Cetakan pertama. Terjemah Oleh; Hamid Fahmy. M. Arifin Ismail. dan Iskandar Amel. Bandung; Mizan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar