Minggu, 27 Juni 2010

Andragogy

Mengenal Andragogy

Latar Balakang
Semakin lama bumi ini semakin sempit dan kecil untuk didiami manusia. Apa yang terjadi pada suatu sisi bumi akan segera diketahui dan bahkan dapat dirasakan oleh bagian bumi yang lain pada saat yang sama. Kemajuan teknologi memiliki andil besar dalam menciptakan situasi dan keadaan bumi tersebut. Kecanggihan teknologi telekomunikasi menjadikan setiap orang dapat saling berhubungan walaupun tidak pindah dari tempat duduknya, teknologi transportasi memungkinkan seseorang bergerak dari satu tempat ke tempat lain di bagian bumi dengan demikian cepatnya, yang dulu tidak pernah dibayangkan atau diramalkan akan terjadi. Keadaan yang sedemikian itu menjadikan seluruh permukaan bumi selalu terpengaruh oleh bagian bumi yang lain. Media cetak dan elektronika dengan sangat cepat mampu menyebarkan informasi keseluruh permukaan bumi. Karena perkembangan teknologi itu, maka semua lini kehidupan manusia mengalami perkembangan dan perubahan; sosial, politik, budaya, nilai dan lain sebagainya ikut terpengaruh dan berubah. Akibat yang dapat dirasakan adalah seseorang akan mengalami kesulitan dalam mengejar perubahan yang terjadi di berbagai sektor kehidupan, ilmu dan teknologi, sehingga masa belajar sampai umur 20 tahun dirasa tidak cukup. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin tahun semakin cepat, setelah tahun 2000 sering terjadi penemuan baru dalam berbagai bidang ilmu. Dapat dibandingkan lama waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu penemuan dalam rentang masa sejak tahun 1700 s/d 1960 semakin lama semakin singkat waktu yang dibutuhkan. Photography memerlukan 112 tahun (1727-1839), generator listrik 65 tahun (1821-1886), telephone 56 tahun (1820-1876), radio 35 tahun (1867-1902), tabung hampa udara 33 tahun (1884-1915), tabung sinar X 18 tahun (1895-1913), radar 15 tahun (1925-1940), TV 12 tahun (1922-1934), reactor nuklir 10 tahun (1932-1942), bom atom 6 tahun (1939-1045), transistor 3 tahun (1948-1951) dan solar battery 2 tahun (1953-1955)

Perubahan Pendangan Tentang Pendidikan
Pada mulanya sebagian ahli pendidikan beranggapan, tujuan pendidikan didasarkan pada pengertian bahwa pendidikan adalah pengalihan pengetahuan dari satu generasi ke generasi beikutnya. Asumsi ini memiliki pengertian tersirat ; (1) Jumlah pengetahuan itu tidak terlalu banyak sehingga sistem pendidikan mampu mengelola pengetahuan secara keseluruhan dan (2) kecepatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat tidak terlalu cepat sehingga memungkinkan untuk menyimpan ilmu pengetahuan dalam kemasan tertentu dan menyampaikannya sebelum pengetahuan itu sendiri berubah.
Kedua keadaan tersebut saat ini sudah tidak belaku lagi. Kemajuan ilmu pengetahuan yang terjadi pada akhir-akhir ini menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat cepat di masyarakat, sehingga tidak memungkinkan teori pengalihan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikut dapat berjalan dengan baik melalui sistem pendidikan. Dengan memperpanjang masa wajib belajar dari enam tahun menjadi sembilan tahun, dengan memasukkan berbagai pengetahuan dan memperluas cakupan kurikulum pada pendidikan dasar, rupanya belum mampu menjadikan anak didik sanggup mengejar perubahan yang ada. Hal ini akan semakin rumit apabila pengertian pendidikan adalah pengalihan pengetahuan sebagaimana yang selama ini difahami. Barangkali tujuan pendidikan tersebut diubah dari sekedar “mengalihkan pengetahuan” menjadi “menumbuhkan keinginan dan dorongan dalam diri peserta didik untuk melakukan proses pembelajaran sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang dibutuhkan untuk diketahui”. Apabila konsep ini diterima maka sedikitnya akan ada dua keberhasilan yang dapat dicapai. Pertama, pendidikan tidak lagi hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada pada usia sekolah, kedua, tanggungjawab untuk mempersiapkan apa yang harus dipelajari bukan hanya berada di tangan guru tetapi porsi yang lebih besar berada di tangan peserta didik dan dengan demikian akan terjadi proses pendidikan seumur hidup.
Dalam keadaan yang sedemikian ini, andragogy dipandang tepat dan dapat menyelesaikan atau paling tidak mengurangi permasalahan itu. Andragogy dapat dijadikan alat bantu untuk mencapai kemajuan pribadi baik dalam pekerjaan, kemasyarakatan dan lain sebagainya. Di dalam ajaran Islam didapat banyak landasan dan konsep yang mengatakan bahwa pendidikan itu tidak bermula dan berhenti pada umur tertentu, tetapi pendidikan berlaku untuk seumur hidup tanpa berhenti “Carilah ilmu sejak dari ayunan hingga liang lahat”. Islam, sejak diturunkan telah memberikan solusi problem yang dihadapi manusia sepanjang masa dalam bentuk ajaran “Pendidikan Seumur Hidup”. Para ahli pendidikan kemudian baru pada abad 20 menawarkan konsep pendidikan orang dewasa “andragogy”dengan beberapa pertimbangan diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Hidup itu sendiri adalah pengalaman pendidikan. Semua kegiatan yang dilakukan manusia pada hakekatnya tidak lepas dari unsur dan proses belajar. Apa yang difikirkan tentang kegiatan masa silam, apa yang dilakukan saat sekarang, serta apa yang direncanakan untuk masa mendatang, tidak lepas dari proses belajar yang secara langsung dilakukannya. Apabila hal tersebut tidak dilihat sebagai proses pembelajaran maka pendidikan hanya memiliki pemahaman sempit yang terbatas kepada kegiatan sekolah saja. Belajar dari pengalaman ‘learning by doing’ merupakan sesuatu yang sangat penting bagi orang dewasa.

2. Pendidikan itu sendiri adalah proses berulang tanpa berhenti untuk mengatasi berbagai problem kehidupan secara individual maupun kelompok. Dalam kehidupan, seseorang tidak lepas dari tantangan untuk memecahkan problem, dan setiap problem itu dipecahkan, akan muncul lagi problem baru yang harus dihadapi. Pada saat itu seseorang dituntut untuk mempelajari bagaimana menyelesaikan masalah yang menghadangnya.

3. Proses belajar itu sendiri adalah pemahaman tentang bagaimana cara belajar (learn how to study). Orang dikatakan belajar dengan baik apabila ia mampu menentukan dengan tepat tentang bagaimana strategi yang diambil untuk memahami suatu fakta. Cara memahami ilmu eksakta tidak sama dengan cara yang digunakan dalam memahami ilmu sosial.

Sejarah Perkembangan Andragogy
Andragogy tergolong disiplin ilmu yang relatif baru. Istilah “andragogy” digunakan pertama kali oleh Alexander Kapp guru Sekolah Menengah Atas di Jerman pada tahun 1833, menulis buku berjudul “Platon’s Erziehungslehre” (Plato’s Educational Ideas) ia menjelaskan tentang pentingnya belajar seumur hidup. Istilah andragogy pernah diperdebatkan kemudian tidak digunakan lagi hingga muncul tulisan Rosenstock tahun 1921 yang mengatakan bahwa ‘pendidikan orang dewasa’ memerlukan guru, metode dan filosofi khusus yang disebut dengan andragogy.
Eduard Christian Lindeman keturunan imigran Jerman-Denmark lahir di Michigan USA 1885 dan meninggal pada tahun 1953 banyak mengemukakan konsep andragogy. Pada tahun 1926 Lindeman menulis “Meaning of Adult Education” mengatakan bahwa Andragogi atau ‘adult education’ adalah proses pendidikan yang tidak terbatas dengan kelas atau kurikulum formal. Andragogy cenderung mengatasi problem hidup harian bukan kemampuan yang ideal, andragogy dilaksanakann berdasar kondisi dan situasi bukan berdasar atas materi ajar. Kurikulum dibuat berdasarkan kebutuhan, kecenderungan dan pengalaman peserta didik. Menurut Lindeman belajar adalah belajar menghadapi hidup dan seluruh hidup adalah belajar maka pendidikan itu tidak pernah berhenti.
Tulisan Lindeman “Meaning of Adult Education” memberi inspirasi kepada Malcolm Shepherd Knowles (1913-1997) untuk menulis dan memperkenalkan istilah “andragogy” kedalam dunia literatur Amerika tahun 1968. Ia berusaha meletakkan dasar-dasar konsep andragogy dengan begitu jelas.
“Inspired by Lindeman (1926) and other early writers in adult education, Knowles introduced the term ‘Andragogy’ into American educational literature in 1968 (although the term has been traced back to 1833, in German literature). He defined andragogy as “the art and science of helping adults learn.” And originally, clearly differenciated it from pedagogy (the art and science of teaching children). Many years ago, Knowles saw pedagogy and andragogy as opposing approaches and wrote of “pedagogy versus andragogy.” He held that the pedagogical model gives the teacher full responsibility for all decisions about learning and places the learner in a dependent role, following teacher instructions. More recently, Knowles places pedagogy and andragogy on a continuum. The sub-title of his book, The Modern Practice of Adult Education (1980), was changed from “Pedagogy Versus Andragogy” to “From Pedagogy to Andragogy” in later editions.
Andragogy dapat difahami sebagai ilmu mendidik orang dewasa, sedangkan pedagogy berarti seni mendidik anak-anak. Andragogy berasal dari bahasa Yunani kuno yang terdiri dari “aner” atau ‘andra’ berarti dewasa atau orang dewasa dan “ago” atau ‘agogos’ berarti memimpin atau membimbing, andragogy berarti “seni atau ilmu membimbing orang dewasa dalam belajar”. Sedangkan ‘paedagogy’ berasal dari bahasa Yunani ‘paid ‘ berarti anak-anak dan ‘agogos’ berarti memimpin. Pedagogy berarti ‘memimpin anak-anak’ atau dengan istilah lain disebut ‘suatu ilmu dan seni mengajar anak-anak’ dan secara umum dapat didefinisikan sebagai ‘ilmu dan seni mengajar’

Riwayat Hidup Knowles
Orang yang dianggap meletakkan dasar andragogy adalah Malcolm Shepherd Knowles ia dilahirkan di Montana dari ayah seorang peternak (veterinarian) sejak umur 4 tahun ia sering diajak ayahnya ke lahan peternakan. Sering berdiskusi dengan ayahnya tentang berbagai hal di antaranya; makna hidup, salah dan benar, agama, politik, kesuksesan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Dari ibunya ia banyak mengambil pelajaran tentang rasa kasih sayang, perhatian terhadap orang lain.
Knowles belajar di Harvard mangambil study filsafat, namun ia banyak dipengaruhi oleh kuliah Alfred North Whitehead tentang sastra, sejarah, etika dan hukum internasional. Ia menyelesaikan study di Harvard 1934, mendapat gelar MA pada tahun 1949 di University of Chicago. Ia banyak berkecimpung di bidang Adult Education; 1950 ia menjadi direktur Adult Education Association of the USA dan berkecimpung di dalamnya selama sembilan tahun, menyelenggarakan kurus-kursus sekitar ‘the andragogical model” di North Carolina State University. Sampai pensiun 1979 Knowles masih menjadi tempat rujukan untuk kegiatan andragogy. Buku karangannya yang menjadi sumber andragogi di antaranya adalah; Informal Adult Education (thesis MA) (1950), The Modern Practice of Adult Education (1970) The Adult Learners (1973), Self Directed Learning (1975)

Definisi Andragogy
Banyak definisi yang ditawarkan oleh para ahli tetapi seluruhnya berbeda antara yang satu dengan yang lain karena perbedaan sudut pandang yang berbeda, sebagaimana contoh berikut.
1. Adult education will be defined as that force which, in its ideal application, can bring about a maximum of re adjustment of attitude within a society to any new and changed situation in the shortest possible time and which helps to initiate change which evolves and imparts new skills and techniques required and made necessary by the change.
2. Adult Education is taken to mean form of study and other activities which are undertaken voluntarily by mature people (i.e over the age of 18 ) without direct regard to their vocational value. They are concerned rather which development of personal abilities and aptitudes and the encouragement of social, moral and intellectual responsibility in relation to local, national and world citizenship
3. Adult Education meaning any organised provision to help adults to learn whatever they wish to learn or need to learn .
4. Andragogy is the process of engaging adult learners in the structure of the learning experience.
5. Andragogy is the art and science of helping adults learn

Definisi pertama melihat dari sudut pandang adaptasi masyarakat terhadap hal-hal baru, definisi kedua melihat dari sudut peserta didik yang dengan suka rela mengikuti program pendidikan orang dewasa, sedang yang ketiga menekankan pada sudut pandang peran dan fungsi pendidik sebagai pembantu orang dewasa belajar, yang keempat menekankan dalam masalah proses dan yang ke lima menyoroti dari sudut pandang bahwa andragogi adalah seni.
Dari beberapa definisi itu dapat ditarik satu garis kesamaan bahwa andragogy adalah “seni dan cara menolong orang dewasa belajar yang berbeda dengan yang berlaku bagi anak-anak.

Perbedaan antara pedagogy dan andragogy

Sebagaimana dipaparkan dalam Sejarah Perkembangan Andragogy di atas, pada awalnya Knowles beranggapan bahwa andragogy berlawanan dengan pedagogy, tetapi akhirnya memahami bahwa andragogy adalah kelanjutan dari pedagogy. Pada Sub-title buku The Modern Practice of Adult Education ia menulis “Pedagogy Versus Andragogy” kemudian diubah menjadi “From Pedagogy to Andragogy”. Untuk membedakan antara keduanya Knowles memberikan bandingan sebagai berikut:
Pedagogy Andragogy
Peserta didik Ketergantungan terhadap guru cukup tinggi. Semua kegiatan diarahkan oleh guru. Mandiri, tidak terlalu tergantung kepada guru, guru hanya mendorong dan memberi motivasi
Pengalaman peserta didik Pengalaman yang dimiliki sangat sedikit maka metode pembelajaran menggunakan didaktik Peserta didik memiliki banyak pengalaman yang dapat dijadikan sumber belajar. Metode pengajaran menggunakan diskusi, problem solving, case study, dll.
Kesiapan belajar Belajar sesuai dengan standar yang berlaku di masyarakat. Belajar sesuai dengan kebutuhan mereka. Lebih banyak mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan problem kehidupan.
Orientasi belajar Menguasai materi pelajaran. Kurikulum disusun berdasar urutan dan bobot pelajaran. Pembelajaran berdasar pada pengalaman yang dimiliki oleh peserta

Konsep Dasar Andragogy.
Ada lima dasar konsep dasar andragogy sesuai dengan perbedaan karakteristik antara anak dan orang dewasa:
1. Orang dewasa memiliki konsep pribadi, berkembang dari masa kanak-kanak yang tergantung kepada yang lain, menjadi orang dewasa yang mandiri, mampu menetukan arah hidup sendiri. Oleh karena itu peserta didik hendaknya berpartisipasi dalam menentukan tujuan pembelajaran, materi pelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan.
2. Orang dewasa memiliki pengalaman yang banyak dan bervariasi, yang menjadi modal penting untuk terselenggaranya proses belajar sekaligus menjadi sumber belajar pada kelas balajar orang dewasa.
3. Orang dewasa memiliki kesiapan belajar yang berorientasi kepada peningkatan peran di masyarakat. Program pendidikan seharusnya mencakup kepentinngan peserta didik sehingga mereka dapat lebih siap.
4. Orang dewasa memiliki orientasi belajar untuk dapat diterapkan secara langsung, berbeda dengan anak-anak yang penerapan ilmunya ditunda hingga masa dewasa. Oleh karena itu pembelajaran berubah dari berpusat kepada meteri ajar, menjadi berpusat kepada pemecahan masalah.

Outcome Andragogy
Seseorang yang telah mengikuti proses pembelajaran secara andragogis diharapkan:
1. Mampu memahami diri sendiri; mengerti tentang kebutuhan pribadi, keinginan, motivasi, kemampuan dan tujuan. Mampu melihat diri sendiri secara obyektif, dan berusaha untuk menjadi lebih baik.
2. Mampu mambangun sikap menerima, menyukai dan menghormati orang lain. Mampu membedakan antara personal dan ide, melawan ide tanpa harus menyerang orang yang memiliki ide tersebut secara personal.
3. Mampu membangun sikap dinamis terhadap kehidupan. Ia harus dapat menerima perubahan sebagai kenyataan dan siap merubah sikap sesuai dengan perubahan keadaan. Ia harus mampu melihat bahwa pengalaman dan perubahan merupakan sumber pembelajaran.
4. Mampu bereaksi terhadap penyebab, bukan gejala, sebab pemecahan masalah tergantung pada penyebabnya bakan pada gejalanya.
5. Orang dewasa sanggup meningkatkan kemampuan pribadi agar dapat andil dalam meningkatkan kemajuan diri maupun masyarakat.
6. Ia mampu memahami nilai dasar manusia yang berupa pengalaman, menghargai nilai tradisi dan adat yang telah menyatukan manusia.
7. Mampu memahami masyarakat dan bisa mengarahkan perubahan mereka.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Andragogy
Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogy, melibatkan tujuh proses sebagai berikut :
1. Menciptakan iklim untuk belajar
2. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
3. Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai
4. Merumuskan tujuan belajar
5. Merancang kegiatan belajar
6. Melaksanakan kegiatan belajar
7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai.)

Beberapa Pendekatan
Ada beberapa pendekatan yang dugunakan dalam pembelajaran orang dewasa berdasarkan kebutuhan dan minat orang dewasa. Penekananan proses pembelajaran adalah menjadikan meraka terlibat proses pembelajaran secara aktif dengan pendekatan di antaranya:
1. Problem Centered Approach (Pendekatan Pemusatan Masalah). Guru atau tutor mengarahkan pemecahan masalah berdasar pengalaman kehidupan sehari-hari peserta didik. Motivasi mereka tetap lemah apabila mereka tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran. Dengan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran mereka akan memilki rasa percaya diri. Mereka perlu dirangsang dengan diskusi agar memiliki kesempatan untuk belajar berfikir dan berperan aktif yang akhirnya terjalin komunikasi antar peserta.
2. Projective Approach (Pendekatan proyektif) dengan cara
- diberi gambar atau ceritera yang berkaitan dengan masalah yang mereka hadapi.
- diskusi tentang tokoh-tokoh, cerita pendek dalam raido, TV dll.
Sangat menguntungkan bila dalam cerita itu ada masalah yang tidak dapat dipecahkan, sehingga mereka berlatih untuk menganalisa. Di antara tanda mereka mulai berlatih menganalisa dan memecahkan masalah bila telah terdengar dari mereka kata-kata; kalau saya.. menurut saya….., seharusnya…., kalau begitu…. dan lain sebagainya.

3. Self Actualization Approach (Pendekatan Perwujudan Diri) dikenalkan oleh Abraham Maslow. Untuk memberikan gambaran manusia secara utuh ada ciri-ciri utama yaitu:
a. Proses terpusat pada peserta didik didasari pada pembangkitan percaya kepada kemampuan diri sendiri untuk mengatur kehidupan setiap harinya. Pendidik sebagai fasilitator harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan diri.
b. Peer Learning yaitu belajar bersama kawan dalam kelompok. Dimulai dari menumbuhkan hubungan yang dilandasi saling percaya, fasilitator memperlakukan anak didik sebagai kawan yang sederajat, saling menerima pendapat di antara mereka.
c. Membantu timbulnya Self Concept, untuk diketahui sejauh mana seorang peserta memandang dirinya memiliki andil dalam perubahan. Peserta didik dirangsang untuk berani mengemukakan pendapat dan prakarsa yang konstruktif dan bukan sekedar tanggapan yang pasif.

Pendekatan self-actualization menggunakan metode dan materi yang menjadikan peserta didik secara mandiri mampu menemukan cara penyelesaian masalah. Tutor merangsang peserta didik untuk dapat berkomunikasi dan belajar dari pengalaman sesama peserta dan mendorong semua peserta didik untuk mampu menggunakan segala yang ada menjadi sumber belajar, di manapun dan kapanpun, sehingga terlaksana pendidikan seumur hidup.
Untuk menunjang terlaksananya pendidikan orang dewasa secara efektif, dengan ringkas dapat dikatakan bahwa pada kelas orang dewasa: pendekatan, strategi, alat peraga, materi, format tempat duduk, lingkungan, dan metode yang digunakan perlu disesuaikan dengan tabiat, sifat dan kebutuhan orang dewasa.

Penutup
Uraian di atas hanya sekedar memperkenalkan secara global tentang gambaran, pelaksanan dan tujuan “andragogy”. Lebih jauh para pembaca disarankan untuk merujuk kepada buku-buku yang berkaitan dengan “Andragogy” atau “Pendidikan Orang Dewasa” yang sebagian di antaranya tercantum dalam bibliography berikut.


Bibliography
Jennifer Rogers, Adults Learning, Penguin Books Ltd, Middlesex, England 1971
K. Patricia Cross, Adult as Learners, Jossy-Bass Publishers, San Francisco, 2001
Patricia Cranton, Planning Instruction for Adult Learners, Wall & Emerson, Inc. Toronto, 1989
Peter Renner, The Art of Teaching Adults, Training Associate, Vancouver, 1998
Peter Sutherland, Adult Learning, Kogan Page, London, 2001
_________, Working With Adult Learners, Wall & Emerson, Inc. Toronto, 1992
Roy Prosser, Adult Education for Developing Countries, East African Publishing House, Nairobi, 1967
www.en.wikipidea.org/wiki/Andragogy
www.uni-bamberg.de/fileadmin/andragogik/08/andragogik/andragogy/index.htm
www.work911.com/cgi-bin/links/jump.cgi?ID=4214

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar